Greenhouse Gas (GHG) accounting dikenal sebagai pengukur emisi gas rumah kaca (GRK) yang dihasilkan Di tengah meningkatnya kesadaran global akan perubahan iklim, pelaku bisnis kini semakin dituntut untuk memahami dan mengurangi dampak lingkungan dari aktivitas mereka. Apabila Anda adalah pelaku bisnis seperti pabrik, toko ritel, atau bahkan bisnis jasa digital, memahami GHG accounting adalah kunci untuk mengambil tindakan nyata terhadap iklim. Namun, apa sebenarnya arti dari istilah ini, dan mengapa penting bagi bisnis.
Apa itu GHG Accounting?
Akuntansi gas rumah kaca (GRK) adalah proses mengidentifikasi, mengukur, dan melaporkan emisi gas rumah kaca yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Emisi ini mencakup karbon dioksida (CO₂), metana (CH₄), dinitrogen oksida (N₂O), dan lainnya, yang semuanya berkontribusi terhadap pemanasan global. Layaknya akuntansi keuangan yang mencatat pendapatan dan pengeluaran, akuntansi GRK juga mencatat “jejak karbon” suatu perusahaan, produk, atau proses. Akuntansi ini juga sering disebut sebagai akuntansi karbon, terutama jika berfokus pada emisi CO₂ saja.
Baca juga:
Understanding the Carbon Footprint, Why It Matters for Our Future?
Tujuan akuntansi GRK adalah untuk memberikan gambaran yang jelas tentang seberapa besar kontribusi perusahaan atau organisasi terhadap perubahan iklim. Informasi ini kemudian dapat digunakan untuk menyusun strategi pengurangan, pelaporan, atau bahkan pengimbangan emisi. Akuntansi GRK berlaku untuk berbagai skala (negara, kota, perusahaan, dan bahkan produk individual) yang memungkinkan para pemangku kepentingan untuk menetapkan tanggung jawab dan mengambil tindakan iklim yang terinformasi.
Bagaimana Proses Penerapan GHG Accounting?

Sumber: Pexel
Greenhouse Gas (GHG) accounting umumnya mengikuti kerangka kerja standar seperti GHG Protocol yang dikembangkan oleh World Resources Institute (WRI) dan World Business Council for Sustainable Development (WBCSD). Standar ini mengklasifikasikan emisi ke dalam tiga cakupan utama, atau yang disebut sebagai scope. Scope 1 mencakup emisi langsung dari aktivitas yang dikendalikan perusahaan, misalnya emisi dari kendaraan operasional atau pembakaran bahan bakar di lokasi pabrik.
Scope 2 meliputi emisi tidak langsung dari energi yang dibeli, seperti listrik, pendingin ruangan, atau pemanas. Sementara itu, Scope 3 mencakup emisi tidak langsung lainnya yang berasal dari value chain lainnya, seperti perjalanan dinas, emisi dari pemasok, atau limbah pelanggan. Sebagai contoh, jika Anda menjalankan kedai kopi, Scope 1 mencakup emisi dari kompor gas yang digunakan, Scope 2 berasal dari listrik untuk mesin kopi dan lampu toko, dan Scope 3 meliputi emisi dari pertanian kopi, kemasan, transportasi pengiriman, dsb.
Dalam praktiknya, Greenhouse Gas (GHG) accounting melibatkan pengumpulan data dari berbagai sumber emisi, penerapan emission factor standard, dan menyusun inventarisasi emisi. Langkah awal ini menjadi dasar keputusan-keputusan bisnis untuk menyusun strategi penurunan emisi, pembelian energi terbarukan, atau melakukan offset untuk emisi yang tidak bisa dihindari.
Dari Pengukuran ke Pengelolaan
GHG accounting tidak berhenti di tahap pengukuran. Tujuan akhirnya adalah pengelolaan. Dengan mengetahui sumber emisi terbesar, perusahaan dapat mengambil langkah strategis untuk menguranginya. Contohnya, beralih ke energi bersih, memperbaiki efisiensi supply chain, mengganti peralatan dengan teknologi rendah emisi, atau mendorong perubahan perilaku karyawan dan pelanggan.
Di masa awal, pelaporan emisi perusahaan dilakukan secara sukarela untuk meningkatkan awareness. Namun saat ini, pelaporan emisi telah menjadi alat pengambilan keputusan yang lebih serius. Regulasi semakin ketat, dan pemangku kepentingan menuntut data yang akurat dan dapat dibandingkan.
GHG accounting adalah alat yang penting bagi setiap pelaku usaha yang ingin berkontribusi dalam mengatasi perubahan iklim sekaligus memperkuat daya saing di era ekonomi rendah karbon. Meskipun terdengar teknis, prinsip dasarnya cukup sederhana. Mengukur emisi, pahami asalnya, dan ambil tindakan nyata untuk menguranginya. Bagi bisnis kecil maupun besar, proses ini membuka peluang untuk efisiensi operasional, kesiapan terhadap regulasi, dan tanggung jawab lingkungan yang lebih baik.
Baca juga:
The Role of AFOLU in Mitigating Greenhouse Gas Emissions
Melangkah lebih awal dalam menerapkan GHG accounting bukan hanya soal memenuhi regulasi, tapi juga investasi jangka panjang untuk bisnis yang berkelanjutan dan dan reputasi bisnis yang lebih baik. Jelajahi wawasan lain dari IML Carbon. Temukan artikel-artikel informatif lainnya yang bisa bantu Anda memahami dunia karbon dan menavigasi transisi menuju bisnis berkelanjutan.
Author: Ainur Subhan
Editor: Sabilla Reza
Referensi:
Brohé, A. (2017). The Handbook of Carbon Accounting. London & New York. Routledge.
Gillenwater, M. (2023). What is Greenhouse Gas Accounting? Greenhouse Gas Management Institute.https://ghginstitute.org/2023/03/01/what-is-greenhouse-gas-accounting-furnishing-definitions/
